Unsur Manusia dalam Pergelaran Wayang Kulit

Unsur Manusia dalam Pergelaran Wayang Kulit merupakan orang-orang yang berperan penting dalam kelancaran dan keberhasilan sebuah pagelaran wayang. Meliputi, dalang, penyimping, penabuh, dan sinden.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemahiran khusus dalam bidangnya masing-masing. Berkat kemahiran khusus tersebut, terkadang mereka tidak bisa di gantikan oleh sembarang orang. Peranan dalang sangat penting dan paling menentukan bagi perkembangan dunia pewayangan.

Dalang

Dalang adalah pengatur jalannya pertunjukan wayang. Dalam pertunjukan wayang kulit, dalang adalah bagian terpenting. Dalang berasal dari akronim ngudhal piwulang. Kata ngudhal berarti membongkar atau menyebar luaskan dan piwulang berarti ajaran, pendidikan, ilmu, informasi.

Jadi fungsi dalang dalam pergelaran wayang kulit bukan saja pada segi pertunjukan atau hiburan, namun juga harus memberi tuntutan.

Dalang harus menguasai teknik pedalangan sebagai aspek hiburan, juga berpengetahuan luas dan mampu memberikan pengaruh. Fungsi dalang adalah orang yang memberi penerangan dan bimbingan bagi masyarakat yang tingkat sosialnya beranekaragam.

Selain itu dalang merupakan sutradara, pemain, artis, serta tokoh sentral dari pada suatu pertunjukan wayang. Tanpa dalang, maka pertunjukan wayang itu tidak akan berjalan. Apalagi untuk dalang pada pertunjukan wayang kulit.

Komunikasi antara dalang dengan unit pendukung, perlengkapan dan peralatan pertunjukan wayang merupakan komunikasi yang unik. Melalui segenap indera yang di milikinya, ia berkomunikasi dengan kompleksitas orang dan peralatan yang lazim di gunakan dalam suatu pertunjukan wayang.

Tanpa suatu skenario yang di persiapkan terlebih dahulu, namun wayang tampil secara spontan, kompak dan tidak pernah mengalami kesalahan semalam suntuk.

Sungguh suatu bentuk teater yang aneh karena meskipun tanpa suatu skenario. Padahal, dalang dapat memilih beratus lakon atau cerita baku (babon pakem), carangan, anggitan (sanggit) tontonan dapat berjalan mulus dari jejeran sampai tancep kayon.

Penyimping

Penyimping adalah orang yang membantu dalang dalam menyiapkan wayang yang di jajar (disimping) pada debog. Tugas menyimping ini sesungguhnya tidak terbatas hanya memasang wayang yang harus dipamerkan, akan tetapi juga mempersiapkan segala sesuatu keperluan dalang.

Adapun tugas seorang penyimping yaitu menyediakan wayang-wayang yang akan di gunakan sesuai urutan adegannya, menempatkan kotak wayang berikut keprak dan kepyaknya, menyediakan cempala, memasang dan menyalakan maupun mengatur sumbu blencong, lampu minyak yang khas di gunakan dalam pertunjukan wayang kulit, dan lain-lain.

Sekali-sekali juga membantu pelayanan konsumsi (makan minum, rokok) untuk dalang. Untuk penyiapan ini terkadang di bantu oleh anak-anak muda sebagai salah satu media pendidikan untuk mengenali dan akhirnya mencintai budaya wayang.

Baca juga : Mengenal Seni Karawitan dan alat musiknya

Panjak (nayaga/pengrawit)

Adalah penabuh gamelan jawa di sebut panjak, nayaga atau pengrawit. Nayaga atau yaga berasal dari kata wiyaga yang berarti semedi atau meditasi.

Dalam menjalankan tugas menabuh gamelan, seorang nayaga menabuh dengan konsentrasi dengan tujuan untuk memberi roh terhadap gending yang sedang dimainkan. Keseriusan tersebut seperti seorang yang sedang bersemedi.

Sedangkan pengrawit berasal dari kata rawit, yang berarti rumit. Pengrawit memang selalu berhadapan dengan hal-hal rumit, misalnya harus menghapal ratusan gending yang berbentuk not-not angka di luar kepala dan menyajikannya dengan baik dan benar.

Orang-orang yang bertugas sebagai penabuh gamelan harus mempunyai kemahiran khusus dalam memainkan lagu (gendhing) sesuai dengan permintaan dalang.

Permintaan dalang tentunya tidak verbalistik, namun penabuh gamelan di haruskan memahami isi cerita atau lakon wayang dan gendhing yang di mainkan hendaknya di selaraskan dengan lakon cerita wayang.

Hal inilah menuntut ketajaman intuisi bagi penabuh gamelan dalam pagelaran wayang, karena dalam pagelaran wayang tidak di sediakan notasi musik dalam memainkan gamelan. Semuanya menggunakan intuisi seniman.

Setiap kali menjalankan tugas mengiringi pertunjukan wayang, para nayaga selalu berpakaian resmi, yaitu pakaian tradisional dengan baju beskap, kain jarit dan blankon (ikat kepala dari bahan batik).

Waranggana (pesinden)

Pesinden juga sering di sebut sinden, berasal dari kata pasindhian yang berarti yang kaya akan lagu atau yang melagukan (melantunkan lagu). Sinden juga di sebut waranggana, yang berasal dari kata wara yang berarti seseorang yang berjenis kelamin wanita, dan anggana berarti sendiri.

Pada zaman dahulu, waranggana adalah satu-satunya wanita dalam pergelaran wayang ataupun pentas klenengan. Setiap menjalankan tugas, pesinden harus berpakaian resmi, memakai kain kebaya, rambut di gelung atau di sanggul.

Mereka harus duduk bersimpuh (duduk di lantai dengan posisi kaki di lipat). Posisi duduk bersimpuh merupakan posisi duduk yang di anggap sopan manakala menghadapi seseorang yang di hormati.

Pesinden haruslah mempunyai suara yang khas sebagai pesinden, yaitu suara yang melengking merdu dengan cengkok suara yang luwes. Mereka harus hafal tembang-tembang tradisional lama dan baru, namun juga ketahanan fisik yang prima.

Hal ini di perlukan karena biasanya pagelaran wayang kulit itu di laksanakan semalam suntuk. Tentu harus mempunyai fisik yang sehat dan kuat untuk melantunkan lagu-lagu jawa serta menahan kantuk mulai senja hingga pagi hari.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *